Sabtu, 13 November 2010

lagu cinta

lagu cinta


Kisah Cinta Manusia-Manusia Langit

Posted: 13 Nov 2010 06:06 PM PST

Cinta adalah karunia Allah. Bahkan Allah menciptakan alam semesta ini karena cintaNya. Karenanya ALAM DAN DUNIA INI ADALAH LAUTAN CINTA. Kekuatannya mampu meluluhlantahkan arogansi diri dan kerendahan materi. Maka bukan tanpa alasan seorang Saini KM menuliskan bait-bait terakhirnya dalam puisi Burung Hijau :

Saat kamu tengadah dan dengan tersipu berkata: / ‘Memang, yang terbaik dari diri kita layak disatukan.’ / Saya pun mabuk karena manis buah berkah, dan melihat: / Malaikat menghapus batas antara dunia dan akhirat.

Ibnu Qoyyim Al jauziyah pernah berkata tentang arti sebuah cinta : ‘Tidak ada batasan cinta yang lebih jelas daripada kata cinta itu sendiri; membatasinya justru hanya akan menambah kabur dan kering maknanya. Maka batasan dan penjelasan cinta tersebut tidak bisa dilukiskan hakikatnya secara jelas, kecuali dengan kata cinta itu sendiri.’

Kenyataannya, SEJARAH ISLAM MENCATAT KISAH-KISAH CINTA MANUSIA-MANUSIA LANGIT DENGAN TINTA EMAS DALAM LEMBARAN-LEMBARAN SEJARAH PERADABAN. Sebuah sejarah yang mengartikan cinta bukanlah utopia dan angan-angan kosong belaka dalam sebuah potret realita.

* Tak apalah meregang nyawa bagi seorang Hisyam bin eAsh takkala mendengar seorang saudaranya merintih kehausan dalam peperangan Yarmuk, memberikan air miliknya sementara bibir bejana hampir menyentuh bibirnya.
* Atau indahnya ungkapan yang diberikan seorang sahabat yang mencintai sahabatnya karena Rabb-Nya.
* Atau seorang Rasul yang memanggil umatnya takkala sakaratul maut menyapa dirinya.
* Teringat episode cantik dalam sejarah seorang wanita yang rela menukar cinta dan hatinya dengan Islam sebagai maharnya. Takkala Rumaisha binti Milhan dengan suara lantang menjawab pinangan Abu Tholhah, seorang terpandang, kaya raya, dermawan dan ksatria ‘Kusaksikan kepada anda, hai Abu Tholhah, kusaksikan kepada Allah dan Rasul Nya, sesungguhnya jika engkau Islam, aku rela engkau menjadi suamiku tanpa emas dan perak. Cukuplah Islam itu menjadi mahar bagiku !’ Akhirnya tinta emas sejarah mencatatnya sebagai seorang ummu Sulaim yang mendidik anaknya, Anas bin Malik dan dirinya sebagai perawi hadits Rasulullah sementara suaminya menjadi mujahid dalam sejarah Islam.
* Melagu hati Sayyid Qutb dalam nada angan akan sebuah keinginan. Lompatan jiwanya melebihi energi yang ada. Baginya kehidupan dunia bukanlah segalanya. Ia belokkan gelora yang ada hanya pada pencipta-Nya yang dengannya syahid menjadi pilihan hidupnya. Tiada mengapa tanpa wanita.
* Gejolak gelora percintaan Rabiah dengan Rabbnya mengajarkan keikhlasan akan sebuah arti penghambaan. Tak sanggup rasanya mengikutinya yang mengharap Ridho-Nya sekalipun neraka menjadi pilihan akhir tempat tinggalnya.
* Lain pula kisah sang Kekasih Allah, Nabiyullah Ibrahim eAlaihissalam. Sebuah kisah yang menggoreskan samudra hikmah kehidupan bagi manusia yang mengedepankan ketundukan dan kepasrahan yang terbalut cinta daripada darah daging sendiri untuk menjadi persembahan.

Adakah CINTA YANG MASIH ADA DI HATI KITA MENYAMAI ATAU BAHKAN MELEBIHI CINTA MEREKA TERHADAP APA YANG MEREKA CINTAI? Jika tidak, lantas APA YANG MEMBUAT KITA MEMBUSUNGKAN DADA DAN MENGKLAIM SEBAGAI PECINTA SEJATI HANYA LANTARAN BUNGA-BUNGA KATA TANPA MAKNA REALITA YANG KITA LONTARKAN?

Diri KITA SERINGKALI MENCARI PEMBENARAN (APOLOGI) ATAS KETIDAKMAMPUAN DAN KETIDAKBERDAYAAN DALAM MENGAKUI SEGALA KELEMAHAN YANG KITA MILIKI. Jika cinta yang mereka hadirkan dapat begitu mempesona bukan hanya karena mereka para sahabat dan shabiyah atau para Nabi dan Rasul. Perlu diingat, mereka juga adalah manusia yang mempunyai keinginan dan kecenderungan sebagaimana manusia biasa. Artinya kecintaan mereka dapat kita duplikasikan pada diri kita.

Lihatlah bagaimana SEJARAH MENCATAT KEMBALI ARTI SEBUAH CINTA ANAK MANUSIA DALAM AKHIR HAYATNYA, sebuah cinta yang dihadirkan oleh mujaddid akhir zaman, Hasan Al Banna yang mendahulukan iparnya Abdul Karim Mansur untuk diberi pertolongan justru pada saat tujuh peluru masih bersarang ditubuhnya…

Ibnu Taimiyah berkata, ‘MENCINTAI APA YANG DICINTAI KEKASIH ADALAH KESEMPURNAAN DARI CINTA PADA KEKASIH.’ Teori ini bukanlah teori belaka. Teori ini merupakan SEBUAH KONSEKUENSI LOGIS DARI SEBUAH CINTA. Segala daya dan upaya ekan menjadi tak berharga jika ia dapat menjadi serupa. Hal ini berlaku kebalikannya. MEMBENCI APA SAJA YANG DIBENCI KEKASIH ADALAH KESEMPURNAAN DARI CINTA PADA KEKASIH. Amboi, indahnya jika semua itu dilandasi atas kecintaan kepada Rabb-Nya. Dan menundukkan kecintaan lainnya karena ia hanyalah kenikmatan sesaat.

Sesungguhnya siapakah kita ini kekasihku? / Hanya setitik debu melekat di bintang mati. / Menggeliat sejenak karena embun dan matahari: / Hanya sedetik dalam hitungan tahun cahaya. (Saini KM)

Jika saja Sapardi mengungkapkan kekuatan keinginan cintanya dengan bait-baitnya : Aku ingin, / Aku ingin mencintaimu dengan sederhana / dengan kata yang tak sempat diucapkan / kayu kepada api yang menjadikannya abu / Aku ingin mencintaimu dengan sederhana / dengan isyarat yang tak sempat disampaikan / awan kepada hujan yang menjadikannya tiada (Sapardi Dj. D), maka ISLAM MENGAJARKAN INDAHNYA CINTA DALAM UNTAIAN DO’A :

‘ Ya Alloh, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu. Telah berjumpa dalam taat pada-Mu. Telah bersatu dalam da’wah pada-Mu. Telah terpadu dalam membela syari’at-Mu. Kokohkanlah, Ya Allah ikatannya, kekalkan cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal pada-Mu. Nyalakanlah hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu. Matikanlah ia dalam syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong…’ dudung.net

Kisah cinta sahabat Nabi, salman al farizi “Argumentasi, Lelaki Shalih, dan Cinta”

Posted: 13 Nov 2010 06:42 AM PST

"Bila seorang laki-laki yang kamu ridhai agama dan akhlaqnya meminang," kata Rasulullah mengandaikan sebuah kejadian sebagaimana dinukil Imam At Tirmidzi, "Maka, nikahkanlah dia." Rasulullah memaksudkan perkataannya tentang lelaki shalih yang datang meminang putri seseorang.

"Apabila engkau tidak menikahkannya," lanjut beliau tentang pinangan lelaki shalih itu, "Niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas." Di sini Rasulullah mengabarkan sebuah ancaman atau konsekuensi jika pinangan lelaki shalih itu ditolak oleh pihak yang dipinang. Ancamannya disebutkan secara umum berupa fitnah di muka bumi dan meluasnya kerusakan.

Bisa jadi perkataan Rasulullah ini menjadi hal yang sangat berat bagi para orangtua dan putri-putri mereka, terlebih lagi jika ancaman jika tidak menurutinya adalah fitnah dan kerusakan yang meluas di muka bumi. Kita bisa mengira-ngira jenis kerusakan apa yang akan muncul jika seseorang yang berniat melamar seseorang karena mempertahankan kesucian dirinya dan dihalang-halangi serta dipersulit urusan pernikahannya. Inilah salah satu jenis kerusakan yang banyak terjadi di dunia modern ini, meskipun banyak di antara mereka tidak meminang siapapun.

"Saya," katanya dengan aksen Madinah memperkenalkan diri pada pihak perempuan, "Adalah Abud Darda'."

"Dan ini," ujarnya seraya memperkenalkan si pelamar, "Adalah saudara saya, Salman Al Farisi." Yang diperkenalkan tetap membisu. Jantungnya berdebar.

"Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya," tutur Abud Darda' dengan fasih dan terang.

"Adalah kehormatan bagi kami," jawab tuan rumah atas pinangan Salman, "Menerima Anda berdua, sahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang sahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada putri kami." Yang dipinang pun ternyata berada di sebalik tabir ruang itu. Sang putri shalihah menanti dengan debaran hati yang tak pasti.

"Maafkan kami atas keterusterangan ini", kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili putrinya.
"Tapi, karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah, saya menjawab bahwa putri kami menolak pinangan Salman."

Ah, romansa cinta Salman memang jadi indah di titik ini. Sebuah penolakan pinangan oleh orang yang dicintainya, tapi tidak mencintainya. Salman harus membenturkan dirinya dengan sebuah hukum cinta yang lain, keserasaan. Inilah yang tidak dimiliki antara Salman dan perempuan itu. Rasa itu hanya satu arah saja, bukan sepasang.
Salman ditolak. Padahal dia adalah lelaki shalih. Lelaki yang menurut Ali bin Abi Thalib adalah sosok perbendaharaan ilmu lama dan baru, serta lautan yang tak pernah kering. Ia memang dari Persia, tapi Rasulullah berkata tentangnya,

"Salman Al Farisi dari keluarga kami, ahlul bait." Lelaki yang bertekad kuat untuk membebaskan dirinya dari perbudakan dengan menebus diri seharga 300 tunas pohon kurma dan 40 uqiyah emas. Lelaki yang dengan kecerdasan pikirnya mengusulkan strategi perang parit dalam Perang Ahzab dan berhasil dimenangkan Islam dengan gemilang. Lelaki yang di kemudian hari dengan penuh amanah melaksanakan tugas dinasnya di Mada'in dengan mengendarai seekor keledai, sendirian. Lelaki yang pernah menolak pembangunan rumah dinas baginya, kecuali sekadar saja. Lelaki yang saking sederhana dalam jabatannya pernah dikira kuli panggul di wilayahnya sendiri. Lelaki yang di ujung sekaratnya merasa terlalu kaya, padahal di rumahnya tidak ada seberapa pun perkakas yang berharga. Lelaki shalih ini, Salman Al Farisi, ditolak pinangannya oleh perempuan yang dicintanya.

Salman ditolak. Alasannya ternyata sederhana saja. Dengarlah.

"Namun, jika Abud Darda' kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka putri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan," kata si ibu perempuan itu melanjutkan perkataannya. Anda mengerti? Si perempuan shalihah itu menolak lelaki shalih peminangnya karena ia mencintai lelaki yang lain. Ia mencintai si pengantar, Abud Darda'. Cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak.

Ada juga kisah cinta yang lain. Abu Bakar Ash Shiddiq meminang Fathimah binti Muhammad kepada Rasulullah. Ia ingin mempererat kekerabatannya dengan Sang Rasul dengan pinangan itu. Saat itu usia Fathimah menjelang delapan belas tahun. Ia menjadi perempuan yang tumbuh sempurna dan menjadi idaman para lelaki yang ingin menikah. Keluhuran budi, kemuliaan akhlaq, kehormatan keturunan, dan keshalihahan jiwa menjadi penarik yang sangat kuat.

"Saya mohon kepadamu," kata Abu Bakar kepada Rasulullah sebagaimana dikisahkan Anas dalam Fatimah Az Zahra, "Sudilah kiranya engkau menikahkan Fathimah denganku." Dalam riwayat lain, Abu Bakar melamar melalui putrinya sekaligus Ummul Mukminin Aisyah.

Mendapat pinangan dari lelaki shalih itu, Rasulullah hanya terdiam dan berpaling. "Sesungguhnya, Fathimah masih kecil," kata beliau dalam riwayat lain. "Hai Abu Bakar, tunggulah sampai ada keputusan," kata Rasulullah. Yang terakhir ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa'd dalam Ath Thabaqat. Maksud Rasulullah dengan menunggu keputusan adalah keputusan dari Allah atas kondisi dan keadaan itu, apakah menerima pinangan itu atau tidak.

Ketika Umar bin Khathab mendengar cerita ini dari Abu Bakar langsung, ia mengatakan, "Hai Abu Bakar, beliau menolak pinanganmu."

Kemudian Umar mengambil kesempatan itu. Ia mendatangi Rasulullah dan menyampaikan pinangannya untuk menikahi Fathimah binti Muhammad. Tujuannya tidak terlalu berbeda dengan Abu Bakar. Bahkan jawaban yang diberikan Rasulullah kepada Umar pun sama dengan jawaban yang diberikan kepada Abu Bakar.

"Sesungguhnya, Fathimah masih kecil," ujar beliau. "Tunggulah sampai ada keputusan," kata Rasulullah.

Ketika Abu Bakar mendengar cerita ini dari Umar bin Khathab langsung, ia mengatakan, "Hai Umar, beliau menolak pinanganmu."

Kita bisa membayangkan itu? Dua orang lelaki paling shalih di masa hidup Rasulullah pun ditolak pinangannya. Abu Bakar adalah sahabat paling utama di antara seluruh sahabat yang ada. Kepercayaannya kepada Islam dan kerasulan begitu murni, tanpa reverse ataupun setitis keraguan. Karena itulah ia mendapat julukan Ash Shiddiq. Ia adalah lelaki yang disebutkan Al Qur'an sebagai pengiring jalan hijrah Rasulullah di dalam gua. Ia adalah dai yang banyak memasukkan para pembesar Mekah dalam pelukan Islam. Ia adalah pembebas budak-budak muslim yang senantiasa tertindas. Ia adalah lelaki yang menginfakkan seluruh hartanya untuk jihad, dan hanya menyisakan Allah dan Rasul-Nya bagi seluruh keluarganya. Ia adalah orang yang ingin diangkat sebagai kekasih oleh Rasulullah. Ia adalah salah satu lelaki yang telah dijamin menginjakkan tumitnya di kesejukan taman jannah. Namun, lelaki shalih ini ditolak pinangannya secara halus oleh Rasulullah.

Sementara, siapa tidak mengenal lelaki shalih lain bernama Umar bin Khathab. Ia adalah pembeda antara kebenaran dan kebathilan. Ia dan Hamzah lah yang telah mengangkat kemuliaan kaum muslimin di masa-masa awal perkembangannya di Mekah. Ia lelaki yang seringkali firasatnya mendahului turunnya wahyu dan ayat-ayat ilahi kepada Rasulullah. Ia adalah lelaki yang dengan keberaniannya menantang kaum musyrikin saat ia akan berangkat hijrah, ia melambungkan nama Islam. Ia lelaki yang sangat mencintai keadilan dan menegakkannya tatkala ia menggantikan posisi Rasulullah dan Abu Bakar di kemudian hari. Ia pula yang di kemudian hari membuka kunci-kunci dunia dan membebaskan negeri-negeri untuk menerima cahaya Islam. Namun, lelaki shalih ini ditolak pinangannya secara halus oleh Rasulullah.

Mari kita simak kenapa pinangan dua lelaki shalih ini ditolak Rasulullah. Ketika itu, Ali bin Abi Thalib datang menemui Rasulullah. Shahabat-shahabatnya dari Anshar, keluarga, bahkan dalam sebuah riwayat termasuk pula dua lelaki shalih terdahulu mendorongnya untuk datang meminang Fathimah binti Muhammad kepada Rasulullah. Ia menemui Rasulullah dan memberi salam.

"Hai anak Abu Thalib," sapa Rasulullah pada Ali dengan nama kunyahnya, "Ada perlu apa?"

Simaklah jawaban lugu yang disampaikan Ali kepada Rasulullah sebagaimana dinukil Ibnu Sa'd dalam Ath Thabaqat.

"Aku terkenang pada Fathimah binti Rasulullah," katanya lirih hampir tak terdengar. Dengar dan rasakan kepolosan dan kepasrahan dari setiap diksi yang terucap dari Ali bin Abi Thalib itu. Kepolosan dan kepasrahan seorang pecinta akan cintanya yang demikian lama. Ia menggunakan pilihan kata yang sangat lembut di dalam jiwa, "Terkenang." Kata ini mewakili keterlamaan rasa dan gelora yang terpendam, bertunas menembus langit-langit realita, transliterasi rasa.

"Ahlan wa sahlan!" kata Rasulullah menyambut perkataan Ali. Senyum mengiringi rangkaian kata itu meluncur dari bibir mulia Rasulullah. Kita tidak usah sebingung Ali memahami jawaban Rasulullah. Jawaban itu bermakna bahwa pinangan Ali diterima oleh Rasulullah seperti yang dipahami rekan-rekan Ali.

Mari kita biarkan Ali dengan kebahagiaan diterima pinangannya oleh Rasulullah. Mari kita melihat dari perspektif yang lebih fokus untuk memahami penolakan pinangan dua lelaki shalih sebelumnya dan penerimaan lelaki shalih yang ini. Kita boleh punya pendapat tersendiri tentang masalah ini.

Ketika Rasulullah menjelaskan alasan kepada Abu Bakar dan Umar berupa penolakan halus, kita tidak bisa menerimanya secara letter lijk. Sebab bisa jadi itu adalah bahasa kias yang digunakan Rasulullah. Misalnya ketika Rasulullah mengatakan bahwa Fathimah masih kecil, tentu saja ini tidak bisa diterjemahkan sebagai kecil secara harfiah, sebab saat itu usia Fathimah sudah hampir delapan belas tahun. Sebuah usia yang cukup matang untuk ukuran masa itu dan bangsa Arab. Sementara Rasulullah sendiri berumah tangga dengan Aisyah pada usia setengah usia Fathimah saat itu. Maka, kita harus memahami kalimat penolakan itu sebagai bahasa kias.

Saat Rasulullah meminta Abu Bakar dan Umar bin Khathab untuk menunggu keputusan, ini juga diterjemahkan sebagai penolakan sebagaimana dipahami dua lelaki shalih itu. Jadi, pernyataan Rasulullah itu bukan pernyataan untuk menggantung pinangan, sebab jika pinangan itu digantung, tentu saja Umar dan Ali tidak boleh meminang Fathimah. Pernyataan itu adalah sebuah penolakan halus.

Atau bisa jadi, saat itu Rasulullah punya harapan lain bahwa Ali bin Abi Thalib akan melamar Fathimah. Beliau tahu sebab sejak kecil Ali telah bersamanya dan banyak bergaul dengan Fathimah. Interaksi yang lama dua muda mudi sangat potensial menumbuhkan tunas cinta dan memekarkan kuncup jiwanya. Ini dibuktikan dari pernyataan Rasulullah untuk meminta dua lelaki shalih itu menunggu keputusan Allah tentang pinangannya. Jadi, dalam hal ini kemungkinan Rasulullah mengetahui bahwa putrinya dan Ali telah saling mencintai. Sehingga Rasulullah pun punya harapan pada keduanya untuk menikah. Rasulullah hanya sedang menunggu pinangan Ali. Di masa mendatang sejarah membuktikan ketika Ali dan Fathimah sudah menikah, ia berkata kepada Ali, suaminya,

"Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda." Saya yakin kita tahu siapa yang dimaksud oleh Fathimah. Ini perspektif saya.

Hal ini diperkuat oleh pernyataan singkat Ali, "Aku terkenang pada Fathimah binti Rasulullah." Satu kalimat itu sudah mewakili apa yang diinginkan Ali. Rasulullah sangat memahami ini. Beliau adalah seseorang yang sangat peka akan apa-apa yang diinginkan orang lain dari dirinya. Beliau memiliki empati terhadap orang lain dengan demikian kuat. Beliau memahami bentuk sempurna keinginan seseorang seperti Ali dengan beberapa kata saja.

Dan jawaban Rasulullah pun menunjukkan hal yang serupa, "Ahlan wa sahlan!" Ungkapan sambutan selamat datang atas sebuah penantian.

Jadi, dengan perspektif ini, kita akan memahami bahwa lelaki shalih yang datang untuk meminang bisa ditolak pinangannya, tanpa akan menimbulkan fitnah di muka bumi ataupun kerusakan yang meluas. Wanita shalihah yang dipinang Salman Al Farisi telah menunjukkan kepada kita, bahwa ia mencintai Abud Darda' dan menolak pinangan lelaki shalih dari Persia itu. Rasulullah pun telah menunjukkan pada kita bahwa ia menolak pinangan dua lelaki tershalih di masanya karena Fathimah mencintai lelaki shalih yang lain, Ali Bin Abu Thalib. Di sini, kita belajar bahwa cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak, dan cinta adalah argumentasi yang shahih untuk mempermudah jalan bagi kedua pecinta berada dalam singgasana pernikahan.

Mari kita dengarkan sebuah kisah yang dikisahkan Ibnu Abbas dan diabadikan oleh Imam Ibnu Majah. Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah. "Wahai Rasulullah," kata lelaki itu,

"Seorang anak yatim perempuan yang dalam tanggunganku telah dipinang dua orang lelaki, ada yang kaya dan ada yang miskin."

"Kami lebih memilih lelaki kaya," lanjutnya berkisah, "Tapi dia lebih memilih lelaki yang miskin." Ia meminta pertimbangan kepada Rasulullah atas sikap yang sebaiknya dilakukannya.

"Kami," jawab Rasulullah,

"Tidak melihat sesuatu yang lebih baik dari pernikahan bagi dua orang yang saling mencintai, lam nara lil mutahabbaini mitslan nikahi."

Cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak. Di telinga dan jiwa lelaki ini, perkataan Rasulullah itu laksana setitis embun di kegersangan hati. Menumbuhkan tunas yang hampir mati diterpa badai kemarau dan panasnya bara api. Seakan-akan Rasulullah mengatakannya khusus hanya untuk dirinya. Seakan-akan Rasulullah mengingatkannya akan ikhtiar dan agar tiada sesal di kemudian hari.

"Cinta itu," kata Prof. Dr. Abdul Halim Abu Syuqqah dalam Tahrirul Ma'rah fi 'Ashrir Risalah, "Adalah perasaan yang baik dengan kebaikan tujuan jika tujuannya adalah menikah." Artinya yang satu menjadikan yang lainnya sebagai teman hidup dalam bingkai pernikahan.

Dengan maksud yang serupa, Imam Al Hakim mencatat bahwa Rasulullah bersabda tentang dua manusia yang saling mencintai. "Tidak ada yang bisa dilihat (lebih indah) oleh orang-orang yang saling mencintai," kata Rasulullah, "Seperti halnya pernikahan." Ya, tidak ada yang lebih indah. Ini adalah perkataan Rasulullah. Dan lelaki ini meyakini bahwa perkataan beliau adalah kebenaran. Karena bagi dua orang yang saling mencintai, memang tidak ada yang lebih indah selain pernikahan. Karena cintalah yang menghapus fitnah di muka bumi dan memperbaiki kerusakan yang meluas, insya Allah.

Cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak, dan cinta adalah argumentasi yang shahih untuk mempermudah jalan bagi kedua pecinta berada dalam singgasana pernikahan dakwatuna.com

Romantika Cinta Sahabat Nabi: Kebencian Barirah dan Cinta Mughits

Posted: 13 Nov 2010 04:55 AM PST

Siapakah Barirah ?

Barirah adalah maula (mantan budak) ‘Aisyah radliyallah ‘anha. Sebelumnya ia adalah budak milik seorang Anshar dari kabilah bani Hilal. Ia terkadang membantu ‘Aisyah dengan upah sebelum dibeli oleh ‘Aisyah dan dibebaskan.

Barirah seorang wanita yang pandai, perawi hadits dan faqihah serta memiliki firasat yang tajam dan tepat. Ia hidup sampai masa kepemimpinan Mu'awiyah radliyallah ‘anhu.

Diriwayatkan dari Abdul Malik bin Marwan (seorang raja dari bani Umayyah), ia berkata: “Aku pernah datang kepada Barirah di Madinah, lalu ia berkata kepadaku: “wahai Abdul Malik, aku melihat pada dirimu ada beberapa sifat yang baik, sesungguhnya engkau layak menerima perkara ini (menjadi pemimpin), jika kamu telah menjadi pemimpin, waspadalah terhadap urusan darah, sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُدْفَع عَنْ بابِ الْجَنَّةِ بَعْدَ أن يُظْهَرَ إليه بِمِلْئِ مَحْجَمَةٍ مِنْ دَمٍ يُرِيْقُهُ مِنْ مُسْلِمٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Sesungguhnya seorang laki-laki akan dijauhkan dari pintu surga setelah dinampakkan kepadanya satu mangkuk bekam berisi darah seorang muslim yang telah dia alirkan (membunuhnya) tanpa hak (jalan yang benar).”

Siapakah Mughits?

Mughits adalah suami Barirah. Dia seorang budak hitam, maula Abu Ahmad bin Jahsy Al-Asadi. Istrinya meminta pisah darinya sesudah dimerdekakan oleh ‘Aisyah. Ketika itu, Mughits masih berstatus sebagai budak (berdasarkan pendapat yang lebih tepat).

Disebutkan di dalam Shahih Al-Bukhari dari jalan Khalid Al-Hadda', dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas; bahwasanya suami Barirah adalah seorang budak, bernama Mughits, saya melihatnya berjalan dibelakangnya sambil menangis, sampai-sampai air matanya mengalir ke jenggotnya, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَا عَبَّاس ! أَلا تَعْجَبُ مِنْ حُبِّ مُغِيثٍ بَرِيْرَةً وَمِنْ بُغْضِ بَرِيْرَةٍ مُغِيْثاً

“Wahai Abbas, tidakkah engkau merasa heran dengan cintanya Mughits terhadap Barirah dan bencinya Barirah terhadap Mughits." (Insya Allah akan dipaparkan pada kisah di bawah nanti).

Kisah Perkawinan Barirah dengan Mughits

Abu Ahmad bin Jahsy, salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tuan dari Mughits, sangat menyayangi dan kagum terhadap budaknya itu. Ia seorang budak yang amanat, jujur, dan bersemangat dalam berkhidmat terhadap tuannya sehingga ia berhasil mempersembahkan banyak manfaat untuk tuannya. Oleh karena itu, ketika tuannya menyerunya untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, segera saja ia menyambutnya. Sebagai balasannya, ketika Mughits meminta sesuatu kepada tuannya, dengan suka rela tuannya pun mengabulkan permintaannya.

Pada suatu hari, Mughits meminta kepada tuannya untuk menikahkannya. Dan tuannya-pun menyanggupinya, tapi nanti setelah mereka tiba di Yasrib untuk hijrah.

Abu Ahmad dan Mughits keluar dari Makkah menuju Madinah. Di tengah perjalanan, Abu Ahmad menyenandungkan syair yang memuji istrinya, hal ini membuat hati Mughits semakin menggebu-gebu untuk menikah. Oleh karena, di tengah-tengah perjalanan yang masih sangat jauh dari Madinah, Mughits senantiasa mengulang-ulang permintaannya kepada tuannya.

Setelah mereka tiba di Yatsrib dan telah mendapatkan tempat, Mughits mengulangi lagi permintaannya kepada tuannya untuk segera dinikahkan. Maka Abu Ahmad menyuruhnya untuk mencari calon istri dari budak wanita yang ada di Yatsrib.

Mulailah Mughits berkeliling di perkampung Madinah. Pada akhirnya, hatinya terpaut dengan seorang budak wanita yang cantik di salah satu rumah kaum Anshar. Ia bernama Barirah. Maka ia bersegera pulang menemui tuannya dan mengabarkan berita gembira ini.

Abu Ahmad pun bersegera pergi ke tempat kaum Anshar tadi, dan menyatakan keinginannya. Merekapun menyambutnya dengan baik. Tapi Barirah tidak menyukai laki-laki ini. Ia memberitahu pada tuannya bahwa ia tidak menyukainya, lalu ia masuk ke dalam sambil menangis. Maka tuannya menyampaikan kepada Abu Ahmad bahwa ia telah ridla dengan ini, tapi Barirah tidak menghendakinya. Maka ia meminta waktu beberapa hari untuk melunakkan hati Barirah.

Mughits sangat sedih dengan tanggapan Barirah. Maka ia meminta tuannya untuk terus mendesak keluarga Barirah agar hatinya luluh. Ia menyampaikan kepada tuannya bahwa ia telah jatuh cinta kepada Barirah dan tidak mau menikah dengan selainnya.

Abu Ahmad merespon permintaan Mughits, dan ia pun berkali-kali datang ke keluarga Barirah untuk meminta budaknya. Pada akhirnya, ia berhasil, hati Barirah-pun luluh.

Kisah Kehidupan Keluarga Barirah Bersama Mughits.

Pada awalnya Barirah tidak mau menikah dengan Mughits, tapi karena desakan yang terus menerus dari tuannya, akhirnya ia pun menyatakan keridlaannya, menerima lamaran Mughits, secara dzahirnya saja. Lalu pernikahan pun dilangsungkan.

Mughits amat merasa bahagia dengan pernikahannya ini. Dia berhasil menyunting gadis cantik pujaannya. Tapi, berbeda dengan Barirah. Ia merasa telah menipu dirinya, ia menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak ia cintai, sampai-sampai ia berujar:

وَاللهِ مَا أَرَدْتُهُ وَلاَ رَغِبْتُهُ ، وَلَكِنْ مَا حِيْلَتِي وَالْقَدَرُ غَالِبٌ

“Demi Allah, aku tidak menginginkan dan tidak menyukainya, tapi apa yang bisa kuperbuat, takdir pastilah menang.”

Kesedihan Barirah sangat luar biasa, tetapi Allah telah mempersiapkan satu hal untuk meringankan beban kesedihannya, yaitu dengan dibukanya pintu salah satu rumah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Aisyah radliyallah ‘anha. Barirah sering datang ke sana untuk membantu pekerjaan Ummul mukminin.

Barirah sangat menyukai ‘Aisyah radliyallah ‘anha, beliau menyambutnya dengan ramah dan memperlakukannya dengan baik. Pada akhirnya Barirah mau mengungkapkan seluruh isi hatinya kepada bunda ‘Aisyah tentang perasaannya terhadap suaminya, Mughits. Ia berkata:

وَاللهِ لَقَدْ أَكْرَهَنِي أَهْلِي عَلَى الزَّوَاجِ مِنْهُ وَمَا أَجِدُ لَهُ فِي قَلْبِي مَيْلاً وَمَا أَدْرِي مَاذَا أَصْنَعُ

“Demi Allah, aku dipaksa oleh keluargaku untuk menikah dengannya. Dalam hatiku tidak ada kecondongan (kecintaan) kepadanya, dan aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat.”

Tetapi Bunda ‘Aisyah memintanya untuk tetap bersabar dan ridla dengan takdirnya. Beliau menasihatkan:

يَا بَرِيْرَة ! اِتَّقِي اللهَ وَاصْبِرِي عَلَى زَوْجِكِ فَإِنَّهُ رَجُلٌ صَالِحٌ وَعَسَى اللهُ أَنْ يُذْهِبَ هَمَّكِ وَأَنْ يَرْزُقَكِ مَحَبَّةَ زَوْجِكِ

“Wahai Barirah! Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah dengan suamimu, sungguh ia adalah laki-laki shalih dan semoga Allah menghilangkan kegundahanmu dan menganugerahkan kecintaan kepada suamimu.”

Berulang-ulang kali Barirah mengadu kepada bunda ‘Aisyah dan berulang-ulang kali pula beliau menasihatkan supaya tetap bersabar dengan suaminya, berusaha terus untuk mencintainya dan ridla dengan bagian yang Allah tetapkan padanya. Barirah-pun berusaha melaksanakan nasihat bunda ‘Aisyah, dan berusaha membuka hatinya untuk suaminya.

Setelah waktu berlalu cukup lama, ia terus mencobanya, tapi ia tetap tidak bisa, bahkan bertambahnya hari hanya menambah rasa benci kepada suaminya.

Barirah mengadu lagi kepada bunda ‘Aisyah tentang suaminya, ia berkata: “Demi Allah wahai Ummul mukminin, sungguh hatiku ini sangat membenci Mughits, aku sudah berusaha mencintainya dan aku tetap tidak bisa. Aku tidak tahu apa yang bisa ku lakukan dalam hidup bersamanya.”

‘Aisyah pun menasihatinya: “Bersabarlah wahai Barirah, semoga Allah memberikan jalan keluar dari masalahmu ini.”

“Demi Allah, aku tidak menginginkan dan tidak menyukainya, tapi apa yang bisa kuperbuat, takdir pastilah menang.” senandung Barirah

Bagaimana dengan Keadaan Mughits

Mughits amat merasa sedih dengan sikap istrinya, ia telah mencurahkan segala cintaannya kepada istrinya tapi ia membalasnya dengan kebencian yang besar. Dia meminta tolong kepada tuannya, Abu Ahmad, untuk menasihati istrinya supaya bersikap lembut kepadanya, tapi tidak juga membawa perubahan. Dia juga meminta bantuan pada keluarga Barirah, tapi mereka kurang meresponnya.

Pada suatu hari istri Abu Ahmad melihat Mughits sedang bersedih, lalu ia berusaha menghiburnya. Ia berkata: “Kenapa kamu ini wahai Mughits! Sepertinya kamu terlalu memikirkan Barirah, wanita selain dia kan banyak!!”

Mughits menjawab: “Tidak, demi Allah, wahai tuanku, aku tidak bisa membencinya dan tidak bisa mencintai wanita selainnya.”

Tuannya berkata: “Kalau begitu bersabarlah, sampai ia melahirkan anakmu, semoga setelah itu hatinya mulai berubah dan bisa mencintaimu.”

Mughits amat bahagia mendengarnya dan mulailah ia berhayal.

“Tidak, demi Allah, wahai tuanku, aku tidak bisa membencinya dan tidak bisa mencintai wanita selainnya.” Kata Mughits kepada tuannya

Sebaliknya dengan Barirah, bertambahnya hari dan bergantinya siang dan malam, hanyalah menambah rasa benci terhadap suaminya, bahkan hal ini bertambah setelah ia melahirkan. Ia berangan-angan tidak pernah melahirkan seorang anak-pun dari Mughits.

Ummul Mukminin, ‘Aisyah radliyallah ‘anha mengunjunginya ketika ia masih dalam keadaan nifas. Beliau mengucapkan selamat dan mendoakan atas kelahiran anaknya. Tapi, Barirah malah menangis tersedu-sedu di hadapannya, sampai-sampai ‘Aisyah-pun menjadi sangat kasihan padanya. Beliau berkata: “Wahai Barirah, mungkinkah engkau untuk membeli dirimu, jika engkau lakukan hal ini maka masalahmu akan bisa teratasi dan engkau berhak atas dirimu sendiri, dan jika engkau mau, engkau bisa berpisah dari suamimu.”

Barirah berkata: “Aku telah mencoba berkali-kali memohon mereka untuk memerdekakanku, tapi mereka tidak menerimanya, seolah-olah tidak ada budak selainku yang bisa membantu mereka. Tetapi aku akan tetap bersabar sehingga Allah menghilangkan rasa sedih dan gundahku.”

Setelah berlalu beberapa tahun, datanglah hari yang ditunggu-tunggu, keluarga Barirah menyatakan mau memerdekakannya jika ia siap membayar sejumlah harta selama sembilan tahun.

Barirah amat sangat senang mendengar berita ini, lalu bersegeralah ia menuju ke rumah bunda ‘Aisyah mengabarkan bahwa keluarganya menawarkan mukatabah dengan sembilan awaq dalam waktu sembilan tahun. Setiap tahunnya satu ‘uqiyah (12 dirham), maka ia meminta bantuan kepada ‘Aisyah untuk membelinya. Ia berkata kepadanya: “Ini adalah hari yang aku tunggu-tunggu wahai Ummul Mukminin, hilangkanlah kesusahanku maka Allah akan menghilangkan kesusahan Anda.”

Lalu ‘Aisyah tertawa dan berkata: "Bergembiralah wahai Barirah, demi Allah beberapa hari ini aku ingin bertaqarrub kepada Allah dengan memerdekakan budak, dan tiada yang lebih aku senangi kecuali memerdekakanmu dan menghilangkan duka citamu. Kemarilah wahai Barirah, ambilah harta ini, timbanglah dan berikan sembilan awaq kepada tuanmu, lalu bayarlah sekaligus dan dirimu menjadi milikmu.”

Datanglah Barirah menemui tuannya untuk membayar pembebasannya. Tuannya bersedia menerima tapi dengan sebuah syarat, agar hak wala' (perwalian) ada padanya. Lalu berita ini di dengar oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda kepada ‘Aisyah untuk membeli dan membebaskannya, karena wala' bagi orang yang memerdekakan. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui orang-orang dan berkhutbah: "kenapa ada laki-laki di antara kalian yang membuat syarat yang tidak terdapat di dalam Kitabullah? Setiap syarat yang tidak terdapat dalam Kitabullah adalah batil, walaupun sebanyak seratus syarat. Dan syarat Allah lebih berhak dipenuhi dan lebih kuat.”

Barirah membawa uang itu kepada tuannya dan menyerahkannya sekaligus, lalu ia kembali kepada Sayyidah ‘Aisyah, berterima kasih dan memujinya. Ia berkata kepada nya:

اَلْحَمْدُ للهِ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِيْنَ، لَقَدْ فَرَّجَ عَنِّي هَمِّي وَكَشَفَ غَمِّي، وَلَقَدْ وَجَدْتُ الصَّبْرَ شَيْئًا عَظِيْمًا

“Al-Hamdulillah, wahai Ummul Mukminin, Allah telah menghilangkan duka citaku dan menyingkapkan kegundahanku, dan aku telah mendapatkan sesuatu yang besar dengan kesabaran.”

Barirah juga menyampaikan kepadanya bahwa ia akan segera meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memisahkan dia dari Mughits.

Pada sore harinya, ia datang ke kamar Aisyah dan meminta izin bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia pun diizinkan. Lalu ia mengucapkan salam dan menyampaikan maksudnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. "Wahai Rasulullah, aku memohon, kiranya baginda sudi menceraikanku dari suamiku Mughits, aku sekarang telah merdeka sedangkan dia masih sebagai budak, aku sudah tidak kuat lagi hidup bersamanya. Tanyalah pada Ummu Abdillah, ‘Aisyah. Pasti beliau akan memberitahukan bagaimana nasib hidupanku bersamanya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersenyum akan ucapan Barirah dan mengabulkan permintaannya. Lalu beliau mengutus seseorang untuk menyampaikan kabar berita ini kepada Mughits.

Ketika mendengar berita ini, Mughits langsung pingsan, ia dirundung kesedihan yang sangat luar biasa. Bumi yang luas ini terasa sempit dan seolah-olah nyawanya sudah pergi meninggalkan jasadnya.

Ketika mendengar berita ini, Mughits langsung pingsan, ia dirundung kesedihan yang sangat luar biasa. Bumi yang luas ini terasa sempit dan seolah-olah nyawanya sudah pergi meninggalkan jasadnya.

Setelah mendapat berita tadi, Mughits selalu mengikuti Barirah, berlari-lari di belakangnya, sepanjang perjalanannya di lorong-lorong kota Madinah. Berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Ia merayunya dengan kata-kata terindahnya, berbicara kepadanya dengan ucapan terhalusnya, tapi Barirah tidak sedikitpun terpengaruh.

Mughits meminta bantuan kepada siapa saja yang dikenalnya untuk berbicara kepada Barirah, tapi tidak juga membuahkan hasil.

Pada hari berikutnya, Mughits mengiba kepada Barirah dengan selalu berjalan dan mengikuti di belakangnya memasuki pasar kota Madinah sambil menangis sampai-sampai air matanya membasahi janggutnya, tapi hal itu juga tidak membuat luluh hati Barirah.

Mughits mengiba kepada Barirah agar mau kembali kepadanya, sampai-sampai dia berjalan di belakangnya di sepanjang jalan Madinah dengan menangis hingga janggutnya basah oleh air matanya

Pemandangan ini membuat hati setiap orang yang menyaksikannya menjadi terenyuh, kasihan dan merasa sedih, di antaranya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika itu beliau bersama pamannya Abbas, berada di pasar Madinah. Lalu beliau berkata kepadanya:

يَا عَبَّاس ! أَلا تَعْجَبُ مِنْ حُبِّ مُغِيثٍ بَرِيْرَةً وَمِنْ بُغْضِ بَرِيْرَةٍ مُغِيْثاً

“Hai Abbas, tidakkah engkau heran dengan cintanya Mughits kepada Barirah dan bencinya Barirah terhadap Mughits.”

Abbas pun menjawab; “betul, Demi Dzat yang mengutusmu, sungguh urusan mereka sangat aneh.”

Ketika Mughits melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia pun mendatangi beliau fsn meminta pertolongannya untuk menyampaikan kepada Barirah agar mau kembali kepadanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merasa sedih melihat kondisi Mughits. Lalu beliau memanggil Barirah dan bersabda kepadanya: “Wahai Barirah, bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya ia adalah bapak dari anakmu, kalau seandainya kamu mau, ruju’lah kepadanya.”

Barirah-pun memandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan diliputi kesedihan, dan berkata: “Wahai Rasulullah, baginda memerintahkanku?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “tidak,….. sesungguhnya aku hanyalah syafi’ (sebagai perantara saja).”

Barirah pun menjawab: “Kalau begitu aku tidak merasa butuh kepadanya, aku tidak bisa hidup bersamanya, aku memilih sendiri.”

*** *** *** ***

Inilah kisah kehidupan Barirah dengan suaminya. Suaminya sangat mencintainya, tapi Barirah sangat membencinya. Ia mampu bersabar bersamanya dalam kurun waktu yang cukup lama dengan berangan-angan ingin berpisah dari suaminya.

Pada akhirnya, datanglah hari yang ia tunggu-tunggu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memisahkan keduanya. Ia merasa seolah-olah telah keluar dari Neraka. Tetapi, sebuah kalimat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hampir saja menghapus seluruh harapan yang sudah lama ia nantikan, ia harus mengesampingkan seluruh perasaan bencinya terhadap suaminya dan akan kembali ke pangkuannya dengan penuh keridlaan dan kerelaan, karena taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Inilah sosok seorang mukminah sejati, yang selalu mendahulukan firman Allah dan sabda Rasulnya daripada keinginan dirinya. Allah berfirman:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nur: 51)

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36). voa-islam.com

10 Tips Menolak Cinta Sahabat Karib

Posted: 13 Nov 2010 04:52 AM PST

1. Menyatakan kepadanya secara berterus-terang bahawa kamu tidak sesuai untuk bercinta dengannya kerana kamu menganggap dia adalah sahabat karib dunia dan akhirat.

2. Menyatakan kepadanya sekiranya kamu menjadi kekasihnya, kamu tidak mungkin boleh mengikut kehendak, arahan dan permintaannya.

3. Kamu dan dia tidak sesuai kerana, selama ini kamu bersikap brutal ketika bersama dia dan tiada ciri2 kekasih yang sejati.

4. Kamu tidak pernah terfikir untuk bercinta dengannya kerana ketika bersahabat pun anda tidak peduli dengan kehadirannya.

5. Menerangkan kepadanya bahawa masih ramai lagi gadis/jejaka diluar sana yang mempunyai ciri2 pasangan yang diidamkan olehnya.

6. Cuba mengelakkan diri kamu daripada bertembung dengannya ditempat kerja, sekolah atau ditempat yang anda dan rakan2 lain selalu berkumpul.

7. Jelaskan padanya anda lebih sayangkan ikatan persahabatan anda daripada menjadi seorang kekasih yang perlu ada komitmen dan bersifat setia.

8. Kamu jelaskan padanya bahawa kamu lebih mesra dan selesa sekiranya tetap terus berkawan sahaja kerana kamu sudah tahu perangainya ketika kamu menjadi sahabatnya dulu.

9. Nyatakan padanya bahawa kamu sudah mempunyai calon dan bakal kekasih yang sesuai dengan diri kamu. Tapi harus diingat jelaskan secara baik kerana kamu mungkin hilang kawan baik yang kamu sayang.

10. Bertegas dengan penderian kamu sekiranya kamu betul2 tidak dapat menerimanya. Ikut kata hati kamu dan jangan termakan pujuk rayu si dia. Akhir sekali katakan dan tegaskan kepadanya "KAU MASIH SAHABATKU" virus-cinta.com

Jurus Jitu Kenalan dengan Wanita

Posted: 13 Nov 2010 04:46 AM PST

Bagi beberapa cowok, kenalan dengan cewek itu sangatlah sulit. Kebanyakan orang bisa dengan mudah kenalan ama preman di terminal, nongkrong bareng, bahkan sampai maen catur atau gaple segala. Tapi bakalan ciut seciut-ciutnya kalo disuruh kenalan dengan cewek.

Hal ini cukup berbahaya. Bagaimana cowok-cowok seperti ini bisa berkembang biak kelak, kalau kenalan dengan cewek aja gak berani? Bukankah tak kenal maka tak sayang? Tak sayang, maka tak cinta? Tak cinta maka gak mungkin menikah? Dan tidak menikah berarti tidak bercinta? Dan tidak bercinta berarti tidak bisa berkembang biak? Implikasi dari gak berani kenalan dengan cewek bisa sangat mengerikan.

Mau tahu cara kenalan dengan cewek yang mujarab?

Baiklah, segera baca 24 tips cara kenalan dengan cewek yang dijamin sangat mujarab.

1. Datanglah ke jalan Blora Jakarta (deket patung Jendral Sudirman).
2. Beli Dunkin Donuts secukupnya di jalan itu. Usahakan beli beberapa donat yang ukuran kecil.
3. Cari bangunan yang ada tulisan "XTrans" dan berdirilah dengan santai sambil ngerokok di sekitar pintu masuknya.
4. Tunggu sampe datang cewek cantik yang dateng sendirian dan masuk ke dalem.
5. Segera masuk ke dalam, ikutin itu cewek.
6. Curi dengar pembicaraan cewek itu dengan petugas pemesanan tiket. Hapalkan nomor tempat duduk cewek cantik itu.
7. Liat posisi tempat duduk di mobil Xtrans Travel.
8. Segera pesan tiket Xtrans jurusan Jakarta �” Bandung, minta tempat duduk yang bersebelahan dengan cewek itu.
9. Duduk tenang di ruang tunggu.
10. Segera naik mobil kalau udah tiba waktu berangkat.
11. Di perjalanan, bukalah kantong berisi Dunkin Donuts.
12. Biarkan wanginya menyebar.
13. Makan itu donat.
14. Sapalah si cewek cantik yang duduk di sebelah kita dengan berbasa-basi menawarkan donat.
15. Si cewek pasti menolak dengan halus sambil tersenyum manis.
16. Bukalah kotak donat itu, sehingga donat yang kecil keliatan.
17. Tawarkan donat sekali lagi, pasang muka "kecewa kalau tawaran donatnya ditolak".
18. Dengan sangat terpaksa, si cewek cantik bakal ngambil satu donat yang berukuran kecil.
19. Selanjutnya, mulailah berbasa-basi dengan bertanya "Kuliah di bandung?", "Kerja dimana?" atau pertanyaan lain yang sejenis.
20. Berusaha untuk terus menjalin obrolan sepanjang perjalanan.
21. Tawarin donat lagi kalau obrolan dirasa mulai menjurus garing.
22. Begitu sampai di bandung, silahkan berbicara begini, "sudah malem ya, kamu lapar gak? aku masih lapar padahal udah makan donat, Makan malam dulu yuk!"
23. Si cewek cantik sangat mungkin menolak secara halus. Jangan gentar, Segeralah ngomong "Ooh. Ya udah deh, aku makan sendiri aja. Eh, nomor HP kamu berapa?". Jangan lupa, pertanyaan terakhir harus diucapkan dengan nada sewajar mungkin, jangan sampai mupeng kita terlihatnya.
24. Meskipun gak makan malam bareng, tapi kita sudah berhasil kenalan dengan si cewek cantik, dan dapet nomor HP-nya sekalian. berita8.com

Tertangkap Ciuman, Muda-mudi Dinikahkan

Posted: 13 Nov 2010 04:44 AM PST

Sejumlah warga Desa Alue Buket, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, Kamis (11/11) sekitar pukul 21.00 WIB mengamankan sepasang muda-mudi dimabuk cinta. Mereka ditangkap saat berciuman pada salah satu rumah milik penduduk setempat.

Untuk mencegah terulangnya perbuatan mesum tersebut, kedua pasangan itu terpaksa dinikahkan saat kejadian. Informasi yang dihimpun Metro Aceh (grup Sumut Pos), Jumat (12/11), kedua insan muda yang ditangkap yakni SLM (19) gadis desa setempat dan MKL (20) pemuda asal Blang Jreun, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara.

''Keduanya sudah pernah kita tangkap sekali beradegan ciuman di tangga rumah. Namun kemarin cuma diperingatkan saja, tapi ternyata kembali diulang. Sehingga saat terjadi lagi, warga pun sepakat untuk menikahkan mereka,''ujar saksi mata.

Ia jelaskan, sekitar pukul 20.15 WIB, warga melihat ada bayang-bayang aneh di tangga rumah panggung SLM. Suasana yang gelap gulita, membuat pengintaian mudah dilakukan. Ternyata benar dugaan tersebut, pelaku mesum merupakan anak pemilik rumah dan kekasihnya. hariansumut.com

Kutulis Namanya di Bukit Cinta

Posted: 13 Nov 2010 04:40 AM PST

Kutuliskan namanya di batu agar dia bisa menjadi jodohku.”

Helikopter berputar-putar di atas langit. Puluhan burung merpati berterbangan. Siang begitu panas menyengat. Seorang perempuan berbaju hitam-hitam dengan muka tertutup cadar sibuk menorehkan spidol di atas batu.

Perempuan bercadar itu menuliskan sebuah nama, di atas batu di Jabal Rahmah, Arafah. Ia tidak peduli meski diingatkan tidak boleh mencoret-coret batu. Di batu tempat perempuan itu menulis, sudah penuh tertera nama-nama lainnya termasuk nama Tono, Shobirin dan nama orang Indonesia lainnya.

Aksi corat-coret tidak hanya dilakukan perempuan bercadar itu sendirian. Beberapa orang lainnya juga melakukan aktivitas yang sama.

Jabal Rahmah atau juga disebut Bukit Cinta merupakan bukit kecil yang menyembul di Padang Arafah. Tingginya sekitar 30 meter. Ia berbeda dengan bukit lainnya karena ada tugu putih di puncaknya.

Di bukit inilah Nabi Adam dan Hawa bertemu untuk pertama kalinya setelah terpisah 100 tahun sejak keluar dari surga. Pertemuan itu diriwayatkan diikuti munculnya cahaya terang matahari dan membebaskan bumi dari kegelapan.

Karena menjadi tempat bersejarah pertemuan nenek moyang manusia itu, maka Jabal Rahmah pun diyakini menjadi tempat makbul berdoa khususnya doa untuk mendapatkan jodoh. Maka para jamaah calon haji yang mendatangi Arafah, tempat wukuf, tidak lupa menziarahi Jabal Rahmah dan berdoa di puncaknya.

Berdoa sebenarnya cukup dilakukan secara lisan. Namun banyak jamaah yang tidak puas dengan doa ‘sederhana’ tersebut. Mereka pun melakukan berbagai gaya agar merasa afdhol dalam berdoa, salah satunya ya dengan menuliskan nama orang yang mencari jodoh atau orang yang ingin dijadikan jodohnya di batu-batu Jabal Rahmah.

“Kutuliskan namanya di batu di Jabal Rahmah agar dia bisa menjadi jodohku,” kata seorang pria jamaah dari Jawa Tengah malu-malu.

Jamaah itu mengaku tidak tahu kalau menuliskan nama di batu-batu di Jabal Rahmah dilarang. Ia hanya mengikuti tingkah jamaah lainnya dan agar merasa ‘mantap’ doanya bisa dikabulkan.

Awalnya, bukan batu yang menjadi sasaran corat-coret jamaah, namun tugu putih di puncak bukit. Kini askar menjaga tugu dan dengan keras memarahi jamaah yang berusaha menulis ataupun meratap-ratap di depannya. Karena tugu dijaga ketat, jamaah pun beralih mencoret batu-batu.

Selain menulis di batu, cara salah kaprah lainnya yang dilakukan jamaah adalah menaruh foto bahkan KTP atau ‘surat’. Di depan tugu, misalnya ada sepasang suami istri berdoa khusuk sekali dengan tangan memegang foto. Sambil mengucap doa, sepasang suami istri itu memandang foto yang dipegangnya. Usai satu foto dikeluarkan lagi foto lainnya.

“Saya mendapat titipan doa dari 20 orang agar segera mendapatkan jodoh. Ada yang memberi foto ada yang tidak. Katanya kalau dengan foto lebih makbul,” kata seorang jamaah asal Kendal.

Usai berdoa, jamaah itu menaruh foto tersebut di balik batu. Di puncak Jabal Rahmah memang tersebar banyak sekali foto. Di balik foto tersebut dituliskan sebuah nama, alamat tapi ada juga yang dibiarkan kosong begitu saja. Selain foto, ada juga yang menyelipkan surat di balik batu.

Selain tugu, sebenarnya tidak ada yang istimewa di atas Jabal Rahmah. Di puncak bukit, yang terlihat hanya orang berdoa, dan pedagang yang berjualan cindera mata. Selebihnya pemandangan di Bukit Cinta ini sebenarnya memprihatinkan, aneka sampah plastik bekas botol minuman, pembungkus biskuit, bertebaran di sana-sini.

Lebih menyedihkan lagi, sepanjang anak tangga bukit, para pengemis berjejeran.

Tapi turun dari bukit, pemandangan menyedihkan itu mungkin akan sedikit terlupakan. Di saat lelah dan di tengah panas terik, tiba-tiba saja gerimis kecil akan menyiram jamaah. Gerimis itu gerimis buatan yang keluar dari tiang-tiang di kaki bukit. Dan bila mendongak ke atas, di antara rintik gerimis itu puluhan burung-burung berterbangan. Indah. detiknews.com

Tips Mengefektifkan Komunikasi Dengan Pasangan Anda

Posted: 13 Nov 2010 04:26 AM PST

Hubungan bahagia didasarkan atas kepercayaan dan cinta, dimana keduanya diperkuat melalui komunikasi yang terbuka. Hal ini selalu penting untuk Anda dan pasangan agar berkomunikasi secara efektif.

Yang penting bukanlah masalah percakapannya melainkan bagaimana Anda melakukannya. Tak peduli sesibuk apa jadwal Anda, ambillah waktu untuk berkomunikasi satu sama lain. Bisa tentang apa saja yang Anda berdua minati. Ambillah topik ringan yang menarik dan masuklah ke dalam diskusi yang hangat.

Pasangan Anda mungkin seorang yang sibuk dan Andapun demikian, namun jadikan komunikasi di antara Anda berdua sebagai bagian dalam kehidupan sehari-hari Anda.

Ada kalanya saat-saat canggung terjadi karena tidak adanya komunikasi yang efektif dengan pasangan. Mungkin pria memang seperti itu, tapi jika Anda memberikan sedikit perhatian, katakan kepadanya apa yang Anda rasakan terhadap dirinya, maka lihatlah bagaimana ia akan selalu jatuh cinta kepada Anda setiap hari!

Pasangan Anda mungkin tidak bereaksi secara lahiriah, tapi yakinkah Anda akan melihat lebih banyak kasih sayang darinya di masa yang akan datang. Jika Anda membicarakan sesuatu yang membutuhkan penjelasan, biarkan pasangan Anda untuk berbicara. Jangan dominasi pembicaraan.

Jangan menarik kesimpulan, menginterupsi mapun menyela apa yang dikatakannya dengan sesuatu yang belum tentu benar. Dalam hal ini jangan berikan pilihan kepada pasangan Anda.

Percakapan seperti ini biasanya akan terus memanas sampai membakar emosi kedua belah pihak. Tidak ada gunanya bertahan dalam sebuah argumen jika Anda sebenarnya dapat menghindarinya.

Jika Anda tidak sering bersama pasangan Anda selama hari kerja, pergilah kencan di akhir pekan. Bahkan jika Anda telah memiliki anak, menjauhlah dari anak-anak selama beberapa waktu dan luangkan waktu bagi Anda berdua untuk membangkitkan kembali rasa cinta Anda.

Lakukan apa saja yang ingin Anda lakukan bersama, lakukan jauh dari segala gangguan sehingga Anda benar-benar dapat menikmati setiap kebersamaan itu.

Anda juga dapat menunjukkan kepedulian dan kasih sayang dengan mengerjakan beberapa tugas yang menjadi tanggung jawabnya jika pasangan Anda terlalu lelah untuk melakukan hal itu, atau bergabunglah dengan pasangan Anda saat ia berkebun atau mengecat tembok. Pastikan agar Anda menghabiskan banyak waktu bersama dan menghindari semua pikiran yang negatif. jawaban.com

Melakukan Kesalahan Kencan Yang Sama

Posted: 13 Nov 2010 04:23 AM PST

Sebuah surat datang ke meja saya dari seorang wanita yang lelah karena melakukan kesalahan yang sama terus-menerus dan berharap bisa mematahkan beberapa pola yang merusak. Mari kita pelajari kasusnya.

Dr. Hawkins, saya baru-baru ini melewati sebuah hubungan yang sulit dengan seorang pria yang secara emosional tidak layak sama seperti mantan suami saya dan juga mantan pacar saya sebelum pria ini. Kenapa saya selalu memilih tipe pria yang sama untuk berkencan? Saya tahu pepatah yang mengatakan bahwa kita menikahi ayah kita, tapi saya benci untuk menyamakan pria ini dengan ayah terkasih. Ayah saya adalah seorang pria sejati dan imam bagi keluarga. Saya hanya bisa merenung dan mencoba pulih akibat putus cinta. Saya meminta Tuhan untuk mengambil keinginan dari hidup saya jika menikah lagi bukanlah kehendak-Nya. Saya bisa tenang dalam segala hal, tapi saya tetap ingin bertemu dengan orang yang tepat dan menikah lagi. Bagaimana saya dapat menghindar untuk menikah dengan tipe pria yang sama yang telah menjadi kesalahan saya di masa lalu?

Tentu saja kita semua dapat mengalami seperti apa yang wanita ini alami. Kita akan memandang ke cermin dan bertanya-tanya kenapa kita sampai melakukan apa yang telah kita lakukan. Kita ingin melakukannya secara berbeda. Apa jawabannya?

Pertama, tidak ada jawaban sederhana.

Banyak orang yang menginginkan penyelesaian instan bagi masalah mereka. Kecenderungan kita adalah berdoa kepada Tuan untuk menyelesaikan masalah kita, atau mencoba beberapa solusi dalam waktu singkat kemudian berhenti dalam keputusasaan. Berubah itu tidaklah mudah. Berubah tidak akan pernah menjadi mudah. Jika berubah itu mudah, maka kita akan memiliki kesuksesan yang jauh lebih besar daripada yang dapat kita peroleh saat ini. Perubahan menuntut banyak kerja keras.

Kedua, gunakan hikmat Tuhan yang telah diberikan kepada Anda untuk mencari solusi.

Anda berada di jalur yang benar untuk mengeksplorasi hidup Anda akan sebuah pola. "Jika hal itu dapat diprediksi, maka dapat dicegah". Salah satu karunia terbesar yang kita miliki dari Tuhan adalah hikmat, dan Tuhan berjanji untuk meberikannya dengan murah hati jika kita mencarinya (Amsal 2). Banyak dari kita tidak cukup bergumul dengan tidak tahu apa yang harus dilakukan, tapi dengan keberanian untuk melakukan hal-hal yang kita tahu harus dilakukan.

Ketiga, identifikasi pola-pola Anda yang mengganggu.

Dengan bantuan nasehat yang bijak, eksplorasi pola perilaku Anda. Jika Anda cenderung tertarik pada pria yang jauh, pria yang sudah berpasangan, tanyakan pada diri Anda sendiri kenapa. Apakah Anda memiliki masalah harga diri? Apakah Anda merasa bahwa pria yang terpisah jauh adalah pria terbaik yang dapat membuat Anda tertarik? Apakah Anda takut untuk menjalin komitmen yang lebih serius? Karena kitalah yang mengajarkan orang lain bagaimana seharusnya memperlakukan diri kita. Perilaku Anda menyarankan untuk tidak terikat karena itulah yan Anda anggap pantas bagi Anda.

Keempat, ciptakan tujuan yang jelas bagi perubahan perilaku, dan pertanggung-jawabkan perubahan itu kepada seseorang.

Itulah salah satu cara untuk memahami pola kita, dan menjadi sesuatu yang baru untuk sebuah perubahan. Pengetahuan hanya dapat membantu kita beberapa langkah, maka kita masih harus memetakan strategi perubahan itu. Dimanakah Anda akan pergi untuk menemui pria yang 'tepat'? Bagaimana Anda membuat seorang pria yang siap secara emosi dan rohani untuk sebuah hubungan dapat tertarik kepada Anda? Seorang konselor atau meeka yang terlatih bisa menjadi seseorang yang berharga untuk membantu Anda melakukan perubahan.

Apakah Anda siap untuk cinta? Saya melihat berapa banyak orang yang percaya bahwa mereka telah siap untuk cinta dan kenyataannya, mereka menyabotase upaya untuk mendapatkan cinta dengan berbagai macam cara. Apakah Anda siap untuk cinta? Pertanyaan ini juga berlaku bagi perubahan perilaku lain yang diinginkan – apakah kita benar-benar siap untuk mengubah kebiasaan makan kita? Apakah kita benar-benar siap pergi ke gymn empat kali dalam seminggu? Apakah kita benar-benar siap untuk memiliki hubungan yang lebih sehat? Apakah kita benar-benar siap untuk mempelajari semua yang kita bisa tentang perilaku kodependen? Kita mengeluh tentang hidup kita, bahkan berdoa untuk suatu perubahan, lalu kemudian gagal membuat rencana perubahan jangka panjang. Jalan pintas tidak akan berhasil. Berubah dengan cepat tidak akan bertahan selamanya. jawaban.com

Tiga Kunci Hubungan Bahagia

Posted: 13 Nov 2010 04:18 AM PST

Menjalin hubungan harmonis dengan pasangan kita bukanlah perkara gampang. Tidak percaya, cobalah perhatikan sekeliling kita? Perhatikan juga kiat-kiat yang dilakukan sejumlah pasanagan untuk membangun hubungan harmonis itu?

“Dokter Romantis” Tina B. Tessina mengungkapkan tiga kunci penting untuk membangun pasangan nan harmonis dan bahagia:

1. Membangun Komunikasi.
“Untuk mendapatkan hubungan yang sehat dan dinamis, Anda perlu membangun komunikasi dengan pasangan Anda,” kata Tessina. “Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui apa yang sedang dialami satu sama lain. Jika pasangan Anda mengalami masalah, keduanya dapat bekerja sama untuk mencari solusinya.”

2. Mengungkapkan Cinta dan Romantisme.
Mengekspresikan cinta merupakan pupuk yang membuat hubungan Anda dan pasangan menjadi “mekar”. Kebaikan merupakan pelumas, agar proses komunikasi bisa makoin terjalin. Dan romantisme akan memperkokoh kehidupan cinta Anda.

3. Memperhatikan Diri dan Pasangan.
Peduli terhadap diri Anda dan pasangan Anda. Ini adalah kunci pentingmembangunan keharmonisan, baik secara fisik maupun rohani. Singkirkan ego dan memperhatikan pasangan merupakan cara terbaik untuk memastikan bahwa hubungan Anda akan berkembang dan bahagia. liputan6.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar