Sabtu, 19 Maret 2011

lagu cinta

lagu cinta


Rasa Kesepian Memicu Obsesi pada Benda

Posted: 19 Mar 2011 01:25 AM PDT

Rasa Kesepian Memicu Obsesi pada Benda. Gaya hidup materialisme yang membuat seseorang terobsesi pada benda-benda bisa jadi merupakan cara untuk melupakan kesepian dalam hidup. Kecintaan pada barang materi ini juga diduga dipicu oleh kurangnya cinta dan penerimaan dari lingkungan sekitar.

Kaitan antara materialisme dan kenyamanan hidup memang bukan isu baru, tetapi tim peneliti dari Universitas New Hampshire dan Universitas Yale berusaha untuk memberikan pemahaman lebih konkret bagaimana seseorang mengukur nilai uang dari benda-benda milik mereka dalam kaitan dengan perasaan dicintai.

Tim peneliti lalu meminta 185 orang berusia rata-rata 35 tahun menjawab pertanyaan. Pertama, separuh responden diminta mengingat kembali kapan merasa sangat didukung dan diperhatikan orang lain dan separuh lainnya diminta memikirkan pengalaman menyenangkan, seperti makan di restoran paling enak.

Kemudian kedua kelompok diminta menaksir harga selimut yang ada di depan mereka. Kelompok yang mengingat pengalaman makan di restoran menilai harga selimut itu lebih mahal dibanding kelompok yang mengingat pengalaman dicintai.

Edward Lemay, peneliti, mengatakan orang menilai tinggi sebuah benda materi karena hal itu memberikan sensasi keamanan, perlindungan dan kenyamanan. “Sementara itu orang yang sudah merasa dicintai oleh lingkungannya dan diterima apa adanya dimana hal itu juga menyediakan rasa perlindungan, keamanan dan kenyamanan, nilai mereka pada benda materi berkurang,” katanya.

Dengan kata lain, orang-orang yang hidupnya sudah merasa “penuh” karena cinta, biasanya tidak terobsesi lagi pada benda-benda materi.

kompas.com Rasa Kesepian Memicu Obsesi pada Benda.

Burung Cinta

Posted: 19 Mar 2011 01:24 AM PDT

Burung Cinta. Burung paruh bengkok dari genus Agapornis ini dinamai lovebird karena memperlihatkan perasaan penuh kasih dan saling menjaga pasangannya. Hewan tersebut juga menunjukkan hubungan yang sangat kuat dengan anggota kelompoknya.

Tak hanya menyayangi sesama kawanannya, burung ini juga amat ramah kepada manusia yang merawat mereka dengan penuh perhatian.

Replika burung lovebird ini akan diterbitkan dalam tiga pekan. Peluncuran sepasang burung dan dahan tempatnya bertengger akan dibagi menjadi tiga edisi. Kedua burung akan diluncurkan pekan ini dan pekan depan, sedangkan dahannya akan dirilis pada pekan ketiga.

korantempo.com Burung Cinta

Sajak Kecil Tentang Cinta

Posted: 19 Mar 2011 01:22 AM PDT

Sajak Kecil Tentang Cinta

Mencintai angin harus menjadi siut…

Kau masih ingat, saat kita masih memakai seragam bendera? Aku kerap kali menyuitimu yang lewat dengan malu-malu. Tersipu. Merah pipimu. Pertama kali aku melihatnya, aku sempat curiga. Jangan-jangan kau mengoleskan gincu di sana. Tetapi kemudian aku tahu, gincu hanya untuk bibir. Sementara saat itu aku tak sempat memperhatikan bibirmu.

Sementara bibirku yang berteriak seperti peluit nyaring di lomba lari sekolah hari itu tidak mampu memanggil angin lain ke dadaku sendiri. Aku tertinggal di urutan belakang, sesak dadaku. Terlebih ada kau di sana, di garis finish yang sudah ingin menyambutku dengan pelukan.

Hari itu aku ingat sekali, senyumanmulah yang memberiku kekuatan. Lututku sudah terasa kosong. Nafasku pun sudah ngos-ngosan. Rekan-rekan sudah berlarian di depan dalam jarak meteran. Tetapi entah kenapa aku terus berlari. Semua guru sudah menyuruhku berhenti, menyerah, kalah, lalu berbaring di tandu untuk kemudian dilarikan ke ruang kesehatan. Tetapi aku tidak mau. Aku masih berlari meski dalam kecepatan orang berjalan. Sebab aku tidak mau terlihat kasihan di depan matamu. Sebab aku mencintaimu yang seperti angin yang membawa kesejukan berbeda tiap kali aku memandangmu. Seperti pula suitan (atau siutan—sama saja) yang kupekikkan tiap kemunculanmu yang meruntuhkan daun-daun perdu di halaman sekolah itu.

Mencintai air harus menjadi ricik…

Dan tiba-tiba saja kita berpacaran seperti angin yang melenyapkan hitam awan menjadi hujan. Proses yang rumit, tetapi tak kita pahami sebagai kerumitan. Kita pun begitu mencintai hujan. Sampai-sampai hujan yang kesekian kerap juga menemani perjalanan cinta kita. Hujan di langit itu. Hujan di matamu.

Dulu, kita diteriaki sebagai sepasang anak kecil yang melawan norma. “Anak kecil tidak boleh pacaran!” Selalu itu yang diteriakkan para guru, para tetangga dan orangtua kita. Tetapi kita tidak peduli. Kita hanya berasumsi bahwa mereka cemburu, mereka tidak pernah merasakan pacaran di masa masih berseragam bendera. Mungkin mereka masih asik bermain gundu, bermain bentengan, atau main kejar-kejaran di jam istirahat. Sementara kita tidak. Kita sengaja memilih duduk di pojok kelas. Aku memandangimu. Kau memandangiku. Kita saling memandang. Kita bahkan tidak sanggup berbicara, mengantarkan kata dari bibir masing-masing kita. Kau mengeluarkan kertas, aku mengeluarkan pensil. Dan kita berbicara lewat huruf yang tertulis. Aku ingat kalimat pertama yang kau tanyakan ke aku hari itu, “apa kau akan menikahiku suatu saat nanti?”

Sekarang kita tak lagi setia pada bendera. Kau lulus. Aku lulus. Kau tetap bersekolah di desa. Aku hijrah ke kota.

“Jadi kau akan melupakanku, Kal?”

Tiga laki-laki kecil tampak di seberang sana. Sepertinya mengejar layang-layang yang putus. “Kau pernah bermain layang-layang, Mir?”

“Aku tak pernah percaya pada angin, Kal,” jawabnya sambil menggeleng.

“Layang-layang yang terpisah dari Tuannya selalu meninggalkan penyesalan yang dalam, Mir, kepada Ia yang memiliki benang… dan aku tidak ingin memiliki penyesalan itu,” jawabku dengan tegas. Mirna masih menunduk. Kakinya bergoyang memainkan rumput yang baru saja basah oleh hujan. Melihat Mirna saat ini, tentu, kau tidak akan melihat sosok anak perempuan berusia 13 tahun yang biasanya ada. Garis-garis mukanya tegas. Cara berpikirnya pun sangat cerdas. Kalaulah boleh aku mengibaratkan, Mirna adalah Aisyah yang terlahir kembali di zaman yang makin marut ini.

“Setelah putus, sang Tuan akan menyambungkan benang ke layang-layang baru, Kal.”
Dan kalimat terakhir dari kau itu tak pernah bisa aku jawab.

Mencintai gunung harus menjadi terjal…

“Aku mau lihat gunung, Kal. Aku ingin naik ke puncaknya. Kau bisa membawaku ke atas sana?”

Pertanyaanmu hari itu membuatku diam dan menggaruki kepalaku yang tidak gatal. Tidak ada gunung di desa ini. Di mana-mana sumber air selalu identik dengan mata air dari pegunungan. Tetapi tidak di Sukamoro, delapan belas kilometer dari kota Palembang. Melihat bukit atau tanah, gundukan yang relatif tinggi pun aku akan sangat senang.

Paling tinggi adalah tempat yang kita sebut ‘kedukan’. Ada tanah-tanah yang dikeruk, menciptakan kolam-kolam yang menggenang dan tekstur tanah menjadi semacam dinding yang menjulang. Kita kerap menyepikan diri ke sana. Duduk berdua di tempat yang paling tinggi sambil sesekali melemparkan batu ke arah kolam yang tak pernah terlihat dasarnya.

“Kau berani melompat dari sini, Kal?” tanyamu sambil memamerkan lesung pipitmu itu.

“Kalau kau suruh aku mendaki, kemanapun tempat yang lebih tinggi, tentu aku akan bersedia, Mir. Tetapi kau tentu tahu, aku takut jatuh. Aku takut tergelincir dan kembali ke dasar dengan luka-luka yang lepuh. Apalagi melompat dari sini, jelas aku tak mau,” jawabku bersikukuh.

Anak-anak lain berenang di bawah sana. Tanpa sehelaipun benang. Kita masih saling memandang tanpa peduli pada kecipuk air dan teriakan-teriakan riang yang mampir di telinga kita. “Kau bersedia menungguku kan?” tanyaku lagi.

Saat itu aku tak pernah berpikir, pertemuan itu akan menjadi pertemuan terakhir kita. Keberadaanku di provinsi ini hanya sampai di tingkat SMP. SMA aku harus hijrah ke kota kembang. Mengikuti kehendak ayahku yang berniat menyekolahkanku di tempat yang lebih baik.

Beberapa kali sempat aku mencoba berkirim surat, tetapi tak pernah ada suratku yang kau balas. Aku tak mengerti kenapa. Satu hal yang aku mengerti, aku percaya pada anggukanmu hari itu. Anggukan yang berarti pertanda mengiyakan permintaanku untuk menungguku, sampai semua menjadi lebih baik untuk sebuah penyatuan.

Mencintai api harus menjadi jilat…

Seperti rimbun api yang melenyapkan kayu menjadi abu.

Kerap kali kita dinasehati, anak-anak tidak boleh bermain api, nanti terbakar.

Tapi kita bermain lilin malam itu, berpura-pura jadi sepasang suami-istri yang sedang makan malam. Aku tidak akan pernah lupa menu apa yang kau hidangkan saat itu. Tempe bacem, sambal teri, dan lalapan macam kacangpanjang, ketimun, dan daun singkong. Hal yang terakhir sengaja dihidangkan sebab ada kenangan yang unik. Kenangan yang mungkin tidak akan pernah bisa kita ulangi.

“Kau mau singkong, Mir?” hari itu selesai hujan, kita yang berteduh dengan daun-daun pisang sudah merasa keroncongan. “Kita bakar atau rebus saja, kan?”

“Memang singkong dari mana, Kal? Aku lihat kau tak membawa apa-apa sekarang,” jawabmu penasaran.
Seketika mulutku memonyong ke arah pukul sebelas. Kebun singkong. Kau diam saja. Aku anggap itu sebuah persetujuan.

Sedang malam ini menjadi malam aku mengenang malam itu.

Pukul 07.40 malam di tanggal yang sama dengan malam dua puluh tahun lalu.

Dia belum datang juga.

Sudah dua kali aku ditanyai oleh pelayan restoran, hidangan apa yang hendak kupesan? Tetapi, aku masih meminta air putih saja. Menu-menu masih belum kujamah.

Seorang perempuan dengan gaun hitam sepanjang lutut dengan bagian dada sedikit dibiarkan terbuka tampak berjalan tergesa ke arahku. Cantik. Kalau ditakar, ia memiliki perawakan tak jauh berbeda dengan Kareena Kapoor. Ah, aku masih saja suka menonton film India hingga kini, mengingatkanku akan masa kecilku.

“Haekal? Maaf, aku telat,” setelah ucapan yang kujawab dengan senyuman itu, ia langsung duduk dan menghela nafas dua kali. “Aku Mirna. Kau pasti sudah tahu kan, yah dari CV yang sudah kau baca pastinya?”
Satu-satunya hal yang membuatku datang pada upaya perjodohan kali ini adalah karena namanya sama dengan namamu. Mirna. Aku sempat berharap kalian berdua adalah orang yang sama. Tetapi ternyata tetap jauh berbeda.

Mirna sudah tentu tahu kalau aku paling benci menunggu dan tidak pernah menoleransi keterlambatan. Mirna pun akan tahu caranya meminta maaf yang baik, tidak seenaknya seperti ‘Mirna’ yang satu ini.
Mencintai cakrawala harus menebas jarak…

Aku ingin kembali menemuimu, Mir. Tidakkah bumi itu bulat?

Kalau iya, seharusnya perputaran ini sudah mempertemukan kita kembali, kan?

Di mana-mana sudah gedung-gedung toko, perumahan-perumahan, perusahaan-perusahaan airminum yang menutup sumber-sumber air seolah milik mereka sendiri. Tak ada lagi anak-anak yang berenang, dan pemandangan yang dulu kusaksikan bersama Mirna dari ketinggian itu.

Sukamoro hari ini, adalah Sukamoro yang berbeda, sudah semi-kota. Tetapi kuharap kau tak berubah, Mir. Kau masih menungguku seperti janjimu itu.

Rumahmu. Kupikir itu rumahmu, sekarang sudah bercat krem lembut dengan pot-pot bunga sederhana. Ada mawar yang baru mekar. Tetapi aneh, dulu kau bilang kau tak pernah suka mawar. Sebab mawar itu angkuh, juga melukai. Kau lebih suka kembang sepatu yang ada adanya. Aku mengiyakan saja waktu itu.
Aku mengetuk pintu.

Tak berapa lama pintu dibuka. Perempuan. Tetapi bukan Mirna. “Maaf, Mirnanya ada?”

“Mirna? Mirna siapa ya? Di rumah ini tidak pernah ada yang namanya Mirna, Mas.”

“Saya Haekal, dua puluh tahun yang lalu saya tinggal di rumah sebelah itu. Di sini rumahnya Mirna, pacar saya,” aku mencoba meyakinkan.

Perempuan itu menggeleng, “maaf Mas, saya ndak tahu.” Kemudian ia menutup pintunya. Meninggalkanku dengan tanda tanya.

Mencintaimu harus menjelma aku…

Mereka semua bilang tidak mengenal Mirna. Tidak mengenal aku.

“Pak, saya butuh data kependudukan dua puluh tahun lalu. Saya harus ketemu Mirna, Pak. Saya harus mencarinya.” Aku semakin panik. Lurah di sini cukup berbaik hati untuk membantuku.

“Sabar, Nak. Bisa disebutkan siapa nama lengkap Mirna ini?”

“Mirna… a, saya lupa, Pak. Saya lupa nama lengkapnya. Tapi dia Mirna yang dulu kembang desa di sini, Pak.”

“O, maaf, Nak, dulu Bapak juga bukan penduduk sini, jadi Bapak ndak tahu. Maaf ya, Bapak ndak bisa bantu lebih jauh.”

Aku tertunduk. Kecewa.

Kenanganku tentang Mirna adalah harta karun yang terkubur di laut terdalam. Tidak satupun kuizinkan orang lain untuk mampu merenggutnya. Biarlah aku yang paling tahu titik koordinat paling tepat untuk kemudian menyelami dan menemukannya.

Tiba-tiba telepon genggamku berdering. Ayah. “Kamu sekarang dimana, Kal?”

“Saya pulang ke kampung, Yah. Rindu.”

“Mencari Mirna?” tanya Ayah spontan.

Aku tersentak. “Ba..bagaimana ayah bisa tahu tentang Mirna?”

“Apa Mirna yang Ayah perkenalkan ke kamu tidak cukup menggantikan ingatanmu, Kal?”

Aku mulai emosi dan mencium bau konspirasi. “Maksud ayah apa?! Mirna yang dijodohkan denganku itu?”

“Apa dia tidak cukup cantik untuk menjadi pasanganmu?”

“Tidak, tidak, Yah… Mirnaku tidak seperti dia. Mirnaku lebih mulia.”

“Mirnamu itu tidak pernah ada, Kal…”

“Maksud Ayah apa berkata seperti itu?! Mirnaku selalu hidup di hatiku, Yah!”

“Kamu tahu kenapa Ayah menyekolahkanmu ke kota, ke luar kota, jauh dari desa kita? Ini bukan semata-mata karena pendidikan yang lebih baik, Kal. Tapi karena kamu dan sikapmu yang semakin menjadi pergunjingan.”

“Pergunjingan karena aku yang masih kecil sudah berani pacaran dengan Mirna, begitu?”

“Bukan, Kal. Kau salah. Ini semua karena Mirnamu tidak pernah ada. Mirna itu cuma ada dalam khayalanmu semata. Semua orang menyebutmu gila karena kau kerap berbicara sendiri, tersenyum sendiri, menyebut Mirna-Mirna tetapi tidak pernah ada yang namanya Mirna di desa itu. Tidak pernah ada, Kal!”
“Ayah Bohong!!!”

Kumatikan teleponnya. Dan aku pun memegangi kepalaku yang dipenuhi berbagai pertanyaan.

diamil dari puisi Sapardi Djoko Damono

harian-global.com Sajak Kecil Tentang Cinta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar